Di dalam komunitas trading, satu tangkapan layar profit dapat mengubah suasana dengan sangat cepat. Beberapa menit sebelumnya kita mungkin tidak melihat setup yang menarik. Setelah melihat trader lain mencatat keuntungan besar, market yang sama tiba-tiba terasa penuh peluang. Keinginan untuk membuka chart meningkat, posisi yang tadinya tidak mendesak mulai terlihat layak, dan rasa tertinggal muncul meskipun kondisi market belum tentu berubah.
Reaksi seperti ini sering dianggap sekadar FOMO. Namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa pengaruhnya dapat bekerja lebih dalam. Hasil trading orang lain bukan hanya informasi yang kita lihat. Hasil tersebut juga dapat menjadi pembanding sosial yang mengubah aktivitas, keberanian mengambil risiko, dan kualitas keputusan kita sendiri.
Nina Klocke, Daniel Müller-Okesson, Tim Hasso, dan Matthias Pelster meneliti persoalan ini dalam paper The Impact of Peer Returns in Social Trading, yang diterbitkan pada 2025 di Journal of Behavioral and Experimental Finance. Mereka menggunakan data dari sebuah platform social trading internasional yang menggabungkan aktivitas broker dengan fitur seperti media sosial.
Pada platform tersebut, investor dapat melihat posisi, rekam jejak, serta return pengguna lain. Mereka juga dapat membuat posting, memberi komentar, menyukai konten, dan meniru transaksi. Kondisi ini memberikan kesempatan yang jarang tersedia bagi peneliti: keputusan trading dan hubungan sosial dapat diamati dalam lingkungan yang sama.
Data penelitian mencakup periode Januari 2016 sampai Desember 2017, lebih dari 250.000 investor aktif, dan lebih dari 25 juta transaksi. Peneliti tidak hanya mengasumsikan siapa yang menjadi peer bagi seorang trader. Mereka menggunakan beberapa pendekatan, termasuk interaksi pada posting yang membahas performa, hubungan langsung antarpengguna, dan kelompok yang terdeteksi melalui struktur jaringan.
Ketika profit peer menjadi pemicu
Masalah utama ketika mempelajari pengaruh sosial adalah membedakan pengaruh nyata dari kesamaan yang sudah ada sebelumnya. Dua trader dalam komunitas yang sama mungkin melakukan transaksi serupa karena sejak awal mereka mempunyai minat dan strategi yang sama. Jika keduanya menjadi lebih agresif, penyebabnya belum tentu karena salah satu memengaruhi yang lain.
Untuk mengurangi masalah tersebut, para peneliti memanfaatkan kejutan return yang relatif tidak terduga. Mereka melihat reaksi di sekitar pengumuman laba perusahaan, hasil referendum Brexit, dan pengumuman mengenai Bitcoin futures. Peristiwa-peristiwa ini menciptakan perubahan performa yang besar pada sebagian trader tanpa direncanakan oleh orang-orang di dalam jaringan mereka. Dengan membandingkan perilaku sebelum dan sesudah kejutan, penelitian dapat mengamati apa yang terjadi ketika performa seorang peer mendadak menonjol.
Setelah peer memperoleh return besar dari kejutan tersebut, investor yang terhubung dengannya meningkatkan aktivitas trading. Peningkatan itu tidak hanya terlihat pada instrumen yang menghasilkan profit bagi peer. Dalam beberapa pengujian, aktivitas juga meningkat pada instrumen lain.
Temuan terakhir itu membawa kita ke bagian yang paling menarik. Jika seseorang hanya menyalin analisis yang dianggap informatif, kita mungkin berharap aktivitasnya terkonsentrasi pada aset yang sama. Namun ketika dorongan trading menyebar ke tempat lain, hasil orang lain kemungkinan telah berfungsi sebagai pemicu psikologis, bukan sekadar informasi mengenai satu aset.
Dorongannya dapat menyebar ke trade lain
Pengaruh peer tidak selalu berbentuk peniruan langsung. Seorang trader melihat temannya profit di saham, tetapi kemudian membuka posisi pada forex atau crypto. Instrumennya berbeda, analisisnya berbeda, tetapi dorongan untuk bertindak muncul setelah melihat keberhasilan orang lain.
Penelitian tersebut membahas beberapa penjelasan yang mungkin: perhatian terhadap aset tertentu, kecenderungan mengikuti kelompok, dan kompetisi sosial. Hasil analisis mereka menunjukkan bahwa kompetisi merupakan mekanisme yang penting. Investor dengan performa relatif rendah menjadi lebih rentan terhadap perbandingan dengan peer yang baru saja mendapatkan return besar.
Di sinilah kalimat seperti “kalau dia bisa, saya juga harus bisa” menjadi berbahaya. Kalimat tersebut terdengar seperti motivasi, tetapi dapat diam-diam mengubah tujuan trading. Keputusan yang seharusnya dinilai dari kualitas setup berubah menjadi usaha mengejar posisi orang lain.
Profit peer kemudian menjadi semacam target pribadi, padahal kita mungkin tidak mengetahui modal, leverage, horizon waktu, proses analisis, atau kerugian yang pernah mereka alami. Kita melihat hasil yang menonjol, bukan seluruh distribusi hasilnya. Pertanyaan berikutnya adalah apakah aktivitas tambahan tersebut benar-benar membantu.
Aktivitas naik, kualitas belum tentu ikut naik
Aktivitas trading sering terasa produktif. Membuka lebih banyak posisi menciptakan kesan bahwa kita sedang merespons market dan memanfaatkan peluang. Tetapi aktivitas bukan ukuran kualitas keputusan.
Dalam penelitian Klocke dan rekan-rekannya, transaksi yang dikaitkan dengan pengaruh peer secara rata-rata menghasilkan return yang lebih rendah dibandingkan transaksi lainnya setelah beberapa karakteristik transaksi diperhitungkan. Variasi return juga meningkat. Pada sebagian analisis, trader menggunakan leverage lebih tinggi setelah peer mengalami kejutan return positif.
Temuan itu tidak berarti setiap transaksi yang terinspirasi komunitas akan merugi. Penelitian juga tidak membuktikan bahwa semua komunitas trading merusak performa. Yang ditunjukkan adalah pola rata-rata dalam satu lingkungan social trading: performa tinggi seorang peer dapat meningkatkan aktivitas dan pengambilan risiko orang lain, sementara kualitas hasil berikutnya justru memburuk dan volatilitas return meningkat.
Ada paradoks yang penting di sini. Informasi sosial membuat kita merasa lebih yakin, tetapi keyakinan tambahan itu belum tentu berasal dari peningkatan kualitas analisis. Kita hanya menjadi lebih terdorong untuk bertindak. Karena itu, pelajaran praktisnya bukan menjauhi semua informasi sosial, melainkan membuat batas yang jelas antara informasi dan tekanan.
Ubah tekanan menjadi pemeriksaan ulang
Komunitas dapat memberi manfaat nyata. Diskusi dapat memperlihatkan sudut pandang yang terlewat, membantu menguji asumsi, dan mempercepat pembelajaran. Masalahnya bukan keberadaan orang lain. Masalah muncul ketika performa mereka menggantikan proses keputusan kita.
Sebelum mengambil trade setelah melihat seseorang profit, berhenti sejenak dan ajukan empat pertanyaan:
- Apakah ada informasi baru yang benar-benar mengubah setup saya?
- Apakah ukuran posisi dan batas kerugian saya masih mengikuti rencana awal?
- Apakah saya sedang menilai peluang, atau sedang mengejar hasil orang lain?
- Apakah saya melihat proses lengkapnya, atau hanya hasil yang paling menarik perhatian?
Jika tidak ada informasi baru, tetapi urgensi untuk entry meningkat, perubahan tersebut kemungkinan berasal dari tekanan sosial. Perasaan itu tidak harus dilawan dengan menghindari komunitas. Ia perlu dikenali sebelum berubah menjadi posisi.
Salah satu cara praktis adalah menetapkan jeda wajib setelah melihat posting profit. Jangan langsung membuka posisi hanya karena sebuah hasil terlihat meyakinkan. Tulis alasan entry, invalidation point, position size, dan risiko maksimal seolah-olah posting tersebut tidak pernah terlihat. Jika trade masih masuk akal setelah proses itu, keputusannya memiliki dasar yang lebih kuat.
Jeda tersebut menjaga keputusan individual. Namun agar pengaruhnya bertahan, percakapan komunitas juga perlu mendukung proses yang sama. Alih-alih hanya menampilkan nominal profit, diskusikan thesis, skenario salah, besarnya risiko, dan proses evaluasi setelah posisi ditutup. Return tetap dapat dibahas, tetapi tidak dilepaskan dari risiko yang digunakan untuk memperolehnya.
Komunitas yang sehat membahas proses
Temuan penelitian ini juga relevan bagi pengelola platform dan komunitas. Menonjolkan return ekstrem dapat mendorong pengguna membandingkan diri dengan hasil yang belum tentu representatif. Paper tersebut mengusulkan beberapa arah yang lebih sehat, seperti menampilkan performa jangka panjang, ukuran berbasis risiko, pendidikan mengenai bias, peringatan ketika pengguna mencoba meniru transaksi berisiko, dan pembahasan strategi yang lebih lengkap.
Bagi Sahabat Trader, pelajarannya bukan bahwa profit harus disembunyikan atau semua pengaruh sosial harus dicurigai. Komunitas tetap dapat menjadi sumber informasi dan dukungan. Namun kualitas komunitas tidak seharusnya diukur dari seberapa cepat anggotanya ikut entry setelah melihat keberhasilan orang lain.
Komunitas yang sehat membantu anggotanya berpikir lebih jernih. Ia memberi ruang untuk berbeda pendapat, membicarakan kerugian dengan terbuka, dan menempatkan risiko di samping return. Ia tidak mengubah profit seorang anggota menjadi instruksi bagi anggota lain.
Melihat teman profit dapat memberi inspirasi. Tetapi sebelum menekan tombol buy atau sell, kita perlu memastikan satu hal: apakah keputusan itu berasal dari setup kita, atau dari keinginan untuk segera menyamai hasil orang lain?
Referensi
Klocke, N., Müller-Okesson, D., Hasso, T., & Pelster, M. (2025). The impact of peer returns in social trading. Journal of Behavioral and Experimental Finance, 46, 101057. https://doi.org/10.1016/j.jbef.2025.101057
Versi terbuka dari paper: https://pure.bond.edu.au/ws/portalfiles/portal/273541208/The_impact_of_peer_returns_in_social_trading.pdf
Artikel ini bersifat edukatif dan bukan merupakan rekomendasi untuk membeli, menjual, atau memperdagangkan instrumen keuangan tertentu.




